Warta UBAYA Nomor 179 TH. XV September 2009
Media Komunikasi Universitas Surabaya
Old Gestetner Ternyata ada di UBAYA
Oleh : Oky Widyanarko, SE
Pustakawan - Pusat Arsip dan Museum UBAYA
Mendengar kata Gestetner terasa asing bagi kita terutama orang Indonesia. Kata ini sepertinya serapan dari bahasa asing. Memang demikian halnya karena Gestetner merupakan orang Hungaria bernama asli David Gestetner yang menorehkan tinta sejarah di daratan Inggris dengan penemuan spektakulernya yaitu stencil duplicating machine atau mesin duplikator stensil. Pada tahun 1881, Gestetner menemukan apa yang dinamakan wax coated paper yang digunakan dalam pembuatan mainan anak-anak dan digunakan juga sebagai bahan pembuatan tinta stensil. Sejak itu lahir apa yang dinamakan mesin stensil kantor ciptaan Gestetner. Mesin stensil pertama dipulikasikan oleh Gestetner pada tahun 1890 dan diklaim dapat mencetak 1200 copy dalam waktu satu jam. Sejak itu mesin stensil merk Gestetner mulai dipasarkan di seluruh dunia dengan pabriknya di Tottenham, North London hingga tahun 1970.
UBAYA MEMILIKINYA
Mengingat begitu panjangnya sejarah mesin ini, maka sebagai civitas akademika Universitas Surabaya boleh berbangga karena di salah satu sudut ruangan Pusat Arsip dan Museum Ubaya di Kampus Ngagel, satu mesin stensil legendaris dunia ini nampak terpajang gagah. Entah kenapa mesin itu bisa sampai disini..?! baca lebih lengkap

Hearing Gestetner said was foreign to us, especially those of Indonesia. These words seem to absorption of foreign languages. It is so because a person Gestetner Hungarian native named David Gestetner ink is incised in the history of the British mainland with the spectacular discovery of stencil duplicating machine or stencil duplicator machines. In the year 1881, Gestetner find what is called wax coated paper used in the manufacture of children's toys and used also as a stencil ink-making materials. Since it was born what is called the creation of the office duplicator Gestetner. First mimeograph dipulikasikan by Gestetner in 1890 and claimed to be able to print 1200 copies in one hour. Since then, Gestetner duplicator began marketed brands in the world with factories in Tottenham, North London until 1970. UBAYA OWN Given that long history of this machine, so as Surabaya University academic community should be proud because in one corner of the room and the Museum Archives Center Ubaya On-Campus Ngagel, a legendary world duplicator is seen displayed proudly. For some reason the machine can be reached here, according to a central staff of Archives and Museum,